Sebenernya, SAYA GAK GANTI BAJU 9 HARI. Baru ganti baju kemarin, itupun karena kehujanan, kenapa ? Begini ceritanya. 

Berawal dari ide sederhana mengenai “Sebenernya seberapa care sih orang lain sama keadaan kita sesungguhnya ?”, maka saya bikin percobaan sederhana ini, nggak ganti baju selama lebih dari seminggu. 

Baju yang dipakai itu terus, dibuat kemana mana, dipake ke kantor, ketemu klien, ketemu partner kerja, ketemu temen, sampai ke Java Jazz. Dipake aja terus bajunya termasuk saat tidur. Dan biar lebih parah, saya tambahin blazer kemana mana biar kalau keringetan ya basah, kalau bauk ya jadi bauk banget. 

Biasanya, kalau ada pacar, badan bauk atau ketahuan belom mandi, minimalnya dikasi tau. Ya kadang dijewer juga, karena mungkin mengganggu buat dia nya. Tapi gimana dengan orang lain ? Stranger, yang nggak deket dan yang sebenernya nggak ada urusan ? 

Hasilnya mengecewakan. Lebih dari 30 orang saya ajakin ketemu dalam seminggu ini, ngobrol face to face, nonton, makan malam, dan curhat tengah malam, NGGAK ADA yang bilang kalau badan saya bauk. 

Nggak ada yang bilang kalau bau badan saya udah kayak kain pel yang setahun nggak di cuci.

Respon paling parah yang saya temui cuma satu, “Nang kamu bauk ROKOK”, kata seorang temen perempuan saya sambil meluk. 

Dia komenin bau ROKOK nya! Bukan komenin bauk badan aslinya. Bau keringet, iler dan entah bauk apalagi yang harusnya ada, sama sekali nggak dibahas. 

Di Java Jazz, temen perempuan saya melukin saya kemana mana dan dia juga sama sekali nggak menyebutkan kalau saya bau. Entah hidungnya mampet atau gimana. 

Tapi ada satu dua orang yang melirik saya dengan tajam. Mungkin karena saya bauk. But thats all, cuma dilirik aja. 

Yang mengejutkan, salah satu sahabat saya malah bilang gini “Blazer gw kok bauk gini ya. Salah nyuci ini kayaknya.” Lho malah dia nyalahin blazer nya sendiri! Padahal saya yang disebelahnya yang nggak ganti baju 7 hari!! 

Jadi disini saya bisa ambil kesimpulannya, 

1. Nggak ada orang yang bener bener mikirin orang lain. Setiap orang itu egois. 
Mereka lebih banyak berjibaku sama pikirannya sendiri. Terlalu aware sama diri nya sendiri dan terlalu self centered, sehingga hasil akhirnya mereka bisa salah menyimpulkan sesuatu dengan benar karena terlalu banyak mikirin diri sendiri. Mereka juga punya ratusan mungkin ribuan masalah sendiri, jadi sebenernya nggak ada yang bener bener mikirin orang lain. Ya well, kecuali gebetan dan modusan. 

2. Nggak ada orang yang berani ngasih tau secara langsung pendapatnya sendiri ke orang lain yang belum dikenal. 
Mereka cuma mentok di ngelirik. Udah. Cupu abis. Padahal saya bakalan ceritain kisah sebenarnya dan temenan sama itu orang kalau dia berani bilang langsung. 

3. Nggak perlu takut melakukan sesuatu baik hal itu salah atau benar. 
Karena nggak ngaruh juga toh nggak ada yang bener bener mikirin kita. Palingan pacar. Apalagi kalau kita hanya merupakan orang lain, stranger, kita gak akan di gubris biarpun bauk tai sekalipun. 

4. Orang orang di sekitar kita terlalu “sopan”, dan nggak enakan. 
Sehingga jadinya feedback yang diberikan oleh mereka bukanlah feedback sebenarnya. Sugarcoated feedback. Kalau mereka nggak bisa melakukannya dengan baik, mereka memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Padahal flaws, seberapa kecil, kalau bisa diperbaiki kan ya akan lebih baik kalau diperbaiki saja.

Nobody really cares about you (kecuali yg ngemodusin atau gebetin). Jadi apa yang mau dilakukan setelah mengetahui hal ini ?

Kura Kura

Sebenernya mau cerita coolness nya Java Jazz tadi, tapi tunda dulu. Masih ada hal yang lebih cool ternyata.

Setelah pulang dari Java Jazz tadi, sambil masih nyanyiin lagu, mampir dulu ke NSP, rumah makan padang 24 jam di Kalibata untuk ngisi perut yang lapar.

Didepan saya ada bapak yang belanja banyak nampaknya, dan mulai nggak sabar menunggu Uda nya bungkusin makanan. Mungkin jadi panik karena saya ikut ngantri di belakangnya.

"Lambat banget kamu kayak kura kura!" Kata si Bapak.

Saya sedikit kaget, lalu hampir spontan bilang ke bapak itu, “Kura kura itu, sejak lahir begitu keluar dari telor dan pasir langsung lari ke laut lho pak. Mereka langsung mandiri sejak lahir dan bisa jadi nggak ketemu sama ortu mereka sekalipun seumur hidupnya.”

Nggak tau kenapa, saya nyeletuk lagi. “Mereka juga hidupnya woles pak, nyantai, tenang, kayaknya gak ada beban hidup. Tapi survive.”

Bapak itu mulai menoleh kearah saya. Karena saya yakin saya ganteng dan tampan maka saya berikan senyum paling indah ke bapak tadi.

Lalu saya nyeletuk lagi. “Kura kura juga usia nya panjang pak, jauh lebih panjang dibanding manusia. Kura kura kan keren pak.”

"Mas ini bisa aja hehehe" kekeh si bapak.

Akhirnya si bapak ikutan woles dan kami nunggu berdua dengan tenang sampai Uda kura kura selesai bungkusin semua pesenan bapaknya. Selesai, bayar bayar, giliran saya pesan ke Uda nya.

"Wah abis semua ya mas ?" Kata saya.

"Sisa ini mas di borong bapaknya."

"Gajebo ?"

"Abis."

"Ya udah nasi setengah, telor ceplok sama kuah aja lah mas"

Akhirnya saya dapet pesenan saya, nasi putih, telor ceplok dan kuah (apapun itu). Dan saya mulai makan dengan manis di meja.

Nggak lama kemudian, uda kura kura datang lagi dengan teh tawar panas pesenan saya, dan satu piring yang isinya satu potong gajebo (katanya abis? Diambilin di cabang sebelah kali), dua potong usus, dua potong kikil, dan satu piring udang.

"Wah saya nggak pesen ini mas." Kata saya.

"Udah nggak papa mas."

"Gile banyak banget ni mas. Nanti kalau saya mati darah tinggi gimana ?"

"Nanti saya makamin mas hehehe" kata si Uda kura kura.

Saya lupa, kura kura juga sangat setia dan tahu terimakasih pada orang yang menyayanginya.

Pengalaman ngebuang kura kura beberapa kali pasti kembali sendiri kerumah atau tempat tinggalnya. Kalau dikasih makan langsung dari tangan juga nggak pernah ngegigit jari. Pengalaman mantan saya juga gitu.

Terimakasih Tuhan, terimakasih Tuhannya kura kura. Saya tau kalian berkomplot bersama biar saya nambah nasi. Baiklah saya nambah nasi hehehe

Manusia mencari petualangannya sendiri. Their own adventure, dengan berbagai tujuan. Kita nggak bisa menyalahkan seseorang yang pada akhirnya mengejar cita cita dan passion nya, yang mana biasanya menjadi bagian dari adventure nya dalam menjalani hidup. 

Saya mungkin bukan tipe yang bisa duduk tenang diatas gunung atau dipantai. Saya bukan tipe yang tenang menikmati pemandangan dan meditasi di atas batu karang. 

For me personally, I’ve done some stupid shit before. Hal hal yang mengancam keselamatan nyawa. Itu jawaban akan jiwa adventure saya. Satu mata saya bahkan pernah buta sementara karena kecelakaan saat latihan. Tulang kering retak. Engsel kaki copot. Jari manis lepas. Telapak tangan berlubang. Siku tangan terkelupas. Sebagian hidung hilang. Kepala bocor. Dan lain lain luka lainnya. 

Sebelum usia 25, sudah jadi pembalap liar di jalanan, drift racing, sky diving, uji nyali di beragam kuburan, gliding, ngobrol akrab sama stranger, sleeping around, cross country sumatera - jawa - bali naik mobil sendirian, jalan jalan random ketempat yang tak diketahui, lompat indah dan banyak hal gila aneh ajaib brutal bodoh lainnya. Kecelakaan dan luka sudah nggak terhitung jumlahnya. 

So for now, I want to settle down.
Bukan berarti petualangannya telah selesai. Belum. Petualangannya hanya berubah bentuk. Lebih settle. 

Saya tetap butuh adrenalin rush dan petualangan untuk hidup. Tapi diusahakan tidak mengancam nyawa. Baik nyawa sendiri maupun orang lain. Tipe petualangannya jadi sedikit lebih dewasa dan lebih berguna untuk banyak orang. Bahagianya tidak lagi hanya untuk diri sendiri tetapi untuk banyak orang yang dilayani dan dibantu. 

Initiate pembicaraan dengan orang asing yang secara random ketemu dijalan tetap jadi sumber adrenalin yang brutal. Tetapi tidak mengancam nyawa siapapun. Kecuali kalau saya tiba tiba malah ditusuk :)) 

Ketemu sama tokoh populer dan ngobrol ngobrol juga jadi sumber adrenalin brutal yang setara dengan lompat dari jembatan cinta. Dimanapun jembatan itu berada. 

Pencarian akan petualangan, discovering something serta experiencing it first hand memang sangat menyenangkan, mengerikan, menakjubkan dan beragam rasa lainnya campur aduk jadi satu. Hal itu memang adiktif dan hampir tanpa akhir. 

However, someday, we learn that we evolved dan lebih ingin menyenangkan orang lain ketimbang diri sendiri. Kita mendapatkan kebahagiaan dan sense of adventure dari pencapaian dan achievement sehari hari dalam melayani orang lain. 

So here I am, sharing to you the wisdom of getting lost. Saat masih muda, pergi, hilang dari dunia, fokus pada petualangan dan discovery, karena melakukannya saat tua akan jauh lebih susah baik secara waktu dan mental. Go!

Today I founded a weekly meeting club called LEON.

The purpose of the club is very direct and simple. ‘Knowing your worth’.

Every Thursday night, everyone in the club will tell a story about their biggest achievement of the week, how they did it, and how they feel about it.

There will be no criticism, no bad mouth, no “Seharusnya..”, and things like that. But there will be no help for their problem either.

Everyone need to be the master of their self, as every problem that solved will be a catalyst of self development and exactly another achievement to keep.

The club will gave births to an enlighten, spirited, confidence, high quality individuals that focused on his way to find his success. Whatever is that means.

LEON stands for League of Extraordinary Gentlemen and yes it’s man only club.